Menjelajah Kotagede (Part 2)

Lanjut, Setelah keluar dari komplek masjid, kami menyusuri gang demi gang, cukup padat bangunan rumah warga disitu.
Jalan aja pokoknya sampai pegel hehe

Gak jauh dari komplek, kami tiba di Sumber Kemuning.
Jadi ini adalah Mata Air yg ceritanya dulu waktu Sunan Kalijaga kesini, beliau mau sholat tapi tidak menemukan sumber air untuk Wudhu alhasil beliau menancapkan Tongkatnya disini dan keluarlah air. Sampai sekarang Sumber Kemuning ini masih dipakai oleh warga sekitar :)

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan.
Jalan disini sama seperti jalan di labirin.
Bedanya ini labirinnya terbuat dari tembok hehe, hanya cukup untuk 2 orang (kalau jalan sejajar), jujur aku suka karena jarang banget menemukan hal semacam ini, kamu harus cobain sendiri sensasinya hehe

Aku dibuat kagum dengan bangunan-bangunan tua yg ada disini. Selain tua juga penuh sejarah. Satu lagi, terawat.

Salah satunya ini, namanya Langgar Dhuwur.
Langgar Dhuwur 
Maaf fotonya kurang bagus ya --"
Jadi Langgar Dhuwur ini adalah Langgar (tempat sholat) keluarga yg letaknya di loteng atas beberapa rumah jawa di Kotagede. Terletak disisi depan barat rumah. Dahulu Langgar Dhuwur membentuk melingkari Kraton Mataram di Kotagede jadi sering juga disebut Masjid Pathok Negara Kraton Yogyakarta.  Saat ini bangunan Langgar Dhuwur hanya tersisa dua. Yaitu milik keluarga A. Charis Zubair di Boharen dan milik Alm. Dalhar Anhar di Jagalan.

Tidak jauh darisitu ada juga bangunan joglo tua tapi dindingnya tembok hhm sempet bingung juga sih tapi gak ada keterangan apa apa jadi yasudah deh kami meninggalkan dengan pertanyaan dikepala..
Masih dalam satu gang yg sama, ada bangunan besar yg sangat menarik. Temboknya berwarna hijau, di gerbang tersebut ada ukiran arca, pokoknya nyeni banget. Apik! Sayangnya aku gak ada foto, aku ambil video pas lewat sini :(

Lanjut ya..
Masih penasaran sama lokasi ini, kami yakin masih banyak tempat tempat bersejarah yg belum kami datangi.
Sampai di gang yg di temboknya tertulis Omah UGM.

Hhm omah UGM? Apa itu?
Kami pun menyusurinya..
Setibanya disana, kami dibuat kagum dengan bangunan tersebut. Ditambah kami disambut suara dari gantungan2 yg terbuat dari kerang dll. Duh syahdu banget, angin sepoi-sepoi. Ah.. aku suka banget sama Kotagede!

Kenapa disebut Omah UGM?
Jadi begini, Omah UGM merupakan sebutan untuk sebuah bangunan rumah adat milik UGM. Sebelum dibeli oleh UGM pasca gempa Jogja 2006 bangunan ini milik bapak Parto Darsono. Terletak di Kampung Bodon, bangunan ini berfungsi sebagai Pusat Pergerakan Pelestarian.

Nah di dalam komplek bangunan Omah UGM juga terdapat bangunan joglo khas Kotagede.
Ada pendopo nya di tengah-tengah, dikelilingi pepohonan rindang yg cantik, bunga-bunga, pokoknya sejuk banget duh aku suka berlama-lama disini.

Oh iya disini aku juga ketemu sama dua kucing lucu bangeeeettsss. Lucu, nurut, gak takut sama orang, bersahabat banget.
Ah lengkaplah penjelajahan kali ini hehe

Setelah itu, kami pun kembali ke komplek masjid karena parkir motor disitu hehe
Bayar parkir motor Rp.2000 rupiah.

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk melihat satu bangunan lagi.
Yaitu benteng. Ya, karena ini kan dulu adalah komplek kerajaan Mataram jadi pasti di kelilingi benteng kan. Nah ada benteng yg masih bisa Kita jumpai nih, bentengnya pun masih sangat kokoh.
Letaknya gak jauh dari tempat aku minum Dugan (Ada di part 1).

Namanya Benteng Cepuri.
 Benteng Cepuri dahulunya berupa pagar keliling untuk melindungi bagian inti kerjaan Mataram yakni Istana Raja/Kraton. Fungsinya, sebagai pembatas dunia luar antara komunitas rakyat & komunitas kerabat Raja. Selain itu benteng Cepuri ini juga di intrepetasikan sebagai bangunan pertahanan.
Denah secara umum, Benteng Cepuri adalah persegi panjang yg membentang dari Timur-Barat. Luas seluruh dari benteng Cepuri adalah 6,5 Ha dan sebagian besar temboknya masih tersisa.

Wah keren banget ya. Aku yg suka banget sama cerita-cerita tentang kerajaan merasa sangat beruntung bisa diberi kesempatan untuk berkeliling di daerah Kotagede ini. Pikiranku jadi melanglang buana. Apa yg ku baca dibuku bisa ku bayangkan.

Begitu kayanya Budaya Indonesia, Budaya Jawa khususnya. Semoga terus lestari selamanya. Kita yg muda harus ikut menjaga & merawat. Jangan pernah lupakan sejarah :)

Oh iya satu lagi, yg bikin aku berada di dunia yg lain (bukan dunia ghaib, maksudnya tuh dunia yg tidak biasanya) adalah jalanan disini, jadi di komplek ini, jalannya bukan dari aspal melainkan batu yg disusun seperti ini (lihat foto) terus aku tuh jadi kepikiran gang depan rumahku bakal jadi epic nih kalo dibuat kayagini hehe *imajinasi*

Sekian cerita aku kali ini, honestly aku happy karena bisa nulis cerita sepanjang ini. Haha biasanya aku males nulis panjang-panjang apalagi kalo udah tertunda alhasil seperti dulu dulu, banyak pergi kesana kesini tapi cuma sedikit yg aku dokumentasiin. Nah kebiasaan jelek itu yg sekarang mulai aku rubah. Hehe

Makasih ya udah sempetin baca. See you :)

2 comments

  1. jam operasioanl bukanya sampe jam brp?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setauku sih gak ada jam operasionalnya kak soalnya kan ini gang2 gitu kak. Tapi saran sih kalau mau kesana pagi/Siang/sore kak.

      Delete