Yogyakarta - Pagi ini, Minggu (19/8/18) di iringi tracks dari Yiruma aku memulai bercerita tentang satu hal yang selama ini tidak banyak orang tau, yaitu tentang alasan kenapa aku ingin tinggal di Yogyakarta.
Pada dasarnya di dalam darahku mengalir darah Yogyakarta, Ibu ku adalah asli orang Yogyakarta yang sejak SMA merantau ke Pulau seberang, bertemu jodoh disana, hingga akhirnya hidup disana.
Jadi, sedari kecil aku memang sudah sering bolak-balik ke Yogyakarta, sekedar untuk liburan atau mudik lebaran.
Seiring berjalannya waktu, setelah aku dewasa rasanya seperti di tuntun Tuhan untuk kembali ke Yogyakarta. Sebelumnya sama sekali tidak ada keinginan untuk tinggal di Yogyakarta, jangankan keinginan, memikirkannya pun tidak pernah.
Tapi kembali lagi, mungkin ini adalah jalan Tuhan, dan aku percaya apapun yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik untuk aku.
2011 bulan September akhir, jadi titik permulaan kenapa aku sampai sekarang tidak bisa pergi jauh dari Yogyakarta. Sekiranya tidak perlu aku ceritakan apa yang terjadi selama 7 tahun belakangan ini secara detail. Cukuplah itu menjadi rahasia kehidupanku dan hanya orang-orang terdekatlah yang mengetahui seluruh kisahku tentang itu :)
Ya, Yogyakarta adalah satu kota yang sangat ajaib menurutku. Yogyakarta menyimpan miliaran atau bahkan triliunan cerita dan kenangan semua orang yang pernah menginjakkan kakinya di Yogyakarta, termasuk juga cerita dan kenanganku.
Apakah kamu fikir semua kenangan yang ku miliki disini itu seluruhnya indah?
Tidak, kawan. Tidak..
Ada banyak cerita sedih yang tercecer disini, cerita tetang pertemuan dan kehilangan yang tidak diinginkan siapapun.
Tapi, kenapa aku tetap ingin tinggal di Yogyakarta walaupun tidak sedikit air mata yang mengiringi hari-hariku disini, kenapa? Aku pun tidak tau jawabannya.
Sahabat, di kota yang mungil ini aku bertemu sahabat yang hingga saat ini selalu bersamaku. Tidak banyak memang, ku hitung dengan jari pun masih lebih banyak jumlah jariku dibanding sahabatku.
Tapi, walaupun sedikit aku merasa sudah lebih dari cukup. Perlukah aku sebutkan satu persatu sahabat yang sangat aku sayangi itu? Ya, ku rasa perlu karena anggaplah ini sebagai wujud sayangku, biarlah seisi dunia tau..
- Dewi Nur Oktaviyanti, Sahabat pertama wanita-ku di Yogyakarta (2011)
- Taufik Abror, sahabat pertama pria-ku yang sudah ku rencanakan akan aku tulis cerita sendiri tentang dia (2011)
- M. Wira Dika, sahabat ku yang walaupun dia lebih muda dari aku, ucapannya selalu lebih dewasa dan tingkah polosnya sangat bisa buat aku tersenyum (2011)
- Yuyun Puryani, orang yang menegurku pertama kali saat ospek di hari ketiga sekaligus menjadi perantara yang membuatku mendapat 2 orang sahabat lagi yaitu Yausi Kiki dan Diana Saryenggar (2012) . Yang perlu kalian tau, selama dibangku kuliah aku sangat tertutup dan tidak ingin kenal orang lain selain sahabatku diatas. Ya, aku dikenal jutek dan cuek. Tapi aku punya alasan kenapa aku begitu, tidak perlulah kalian tau :)
- Adin, Sahabatku yang juga menjadi Kakakku, cerita tentang pertemuan awal kami cukup unik, dan tidak disangka ternyata dia menjadi salah satu orang yang sangat berarti di hidup aku. (2014)
- Dwi, Sahabat terbaru yang aku miliki dan dipertemukan di Yogyakarta dengan cerita yang lucu, tapi sedari awal bertemu aku sudah memiliki chemistry dengan dia. (2017)
- Clara Ivana, Aku taruh di urutan terakhir bukan karena aku terakhir mengenal dia, justru dia lah yang paling lama ku kenal, sejak jaman SMA. Menemani dari awal aku di Yogyakarta. Sepertinya Tuhan memang menakdirkan kami untuk selalu bersama. Dia adalah sahabat kesayanganku yang berjasa banyak dalam hidupku, sosok sahabat yang bahkan aku tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata. Seluruh kisah hidupku, dia tau :') (2007)
Apakah kalian fikir aku tinggal disini karena disini ada sahabat-sahabatku?
Tidak juga! Yang perlu kalian tau, sebagian dari kami sudah terpisah jarak. Bahkan untuk bertemu secara langsung pun sudah tidak semudah dulu karena kesibukan masing-masing.
Lalu, apa yang membuatku ingin tinggal disini kalau bukan karena mereka?
Jangan pernah berfikir aku kembali karena aku memiliki kekasih disini. Karena itu adalah banyak tebakan kalian yang justru salah besar. Aku tidak memiliki kekasih atau gebetan dsb disini, jadi hilangkan fikiran itu.
Lalu apa alasannya?
Entahlah.. Aku tidak bisa memberi alasan secara gamblang. Yang aku bisa lakukan adalah menggambarkan Yogyakarta sebagaimana yang aku rasakan, inilah ungkapan kejujuran dari hatiku yang paling dalam tentang perasaanku terhadapmu, Yogyakarta..
Yogyakarta, berhasil membuatku mencintainya. Yang dengan sadisnya membuatku tidak bisa berhenti memikirkannya saat jauh, membuatku hampir gila karena selalu memanggilku untuk kembali tinggal dengannya. Hingga tidak henti-hentinya aku berdoa kepada Tuhan dan menantikan keajaiban untuk kembali bersatu dengannya.
Sungguh itu yang terjadi saat aku tidak ada di Yogyakarta.
Aku hidup seperti zombie, raga ku memang di kota lain tapi pikiran, hati dan jiwaku ada di Yogyakarta.
Kesannya berlebihan bagi kalian yang tidak merasakan, tapi kembali aku tekankan inilah yang sesungguhnya yang ku rasakan.
Di kota mungil ini aku merasakan hidup. Disini aku merasakan nyaman. Disini aku merasakan damai.
Yogyakarta, kota yang sempurna. Kolaborasi yang istimewa antara alam dan manusia.
Yogyakarta punya gunung, punya perbukitan, punya laut, punya pantai, punya hutan, punya waduk, punya embung, punya sungai, punya sawah, punya kebun, punya sejuta senja yang indah, dll. Begitu banyak tempat yang bisa jadi tempat untuk menghilangkan jenuhnya hiruk pikuk urusan dunia fana.
Yogyakarta, selain di berkati dengan kekayaan dan keindahan alam juga di berkati dengan para manusia yang sangat keren, bagaimana mereka bisa mengolah sumber daya alam dengan kreatifitas yang sangat luar biasa tanpa meninggalkan budaya.
Yogyakarta, kesederhanaannya membuatku mengerti bahwa hidup ini adalah tentang makna.
Aku, aku merasa senang di Yogyakarta karena dikelilingi dengan orang-orang yang open minded, aku juga banyak bertemu orang-orang yang sangat luar biasa, jangan anggap orang yang luar biasa disini adalah pejabat atau orang penting karena itu salah besar. Secara duniawi, dari luarnya mungkin mereka biasa saja tapi kisah hidupnya mampu membuatku semakin menghargai hidup, semangat hidupnya, wejangannya, kebijaksanaannya, cara mereka memandang kehidupan, sungguh tidak ku temui orang-orang seperti itu di tempat lain.
Lihatlah secara dalam mata-mata orang tua yang ada di Yogyakarta, entah simbah-simbah yang jualan bubur gudeg di pagi hari, atau simbah yang ada di ladang, maka akan kamu lihat keteduhan di dalamnya :)
Aku, memang umurku masih segini. Tapi dibanding kalian yang seumuran denganku, ada beberapa part yang tidak kamu lalui. Dulu, aku menganggapnya miring, kenapa jalan hidupku tidak semulus dan selurus kalian tapi saat ini aku justru bangga dan oleh karena itu aku menjadi orang yang kaya akan pengalaman hidup. Pengalaman hidup itulah yang mendidik aku jadi wanita yang sangat kuat dan mandiri.
Yogyakarta, membuatku semakin berkembang, aku bisa belajar banyak hal disini. Alangkah banyak ilmu yang ku peroleh di Yogyakarta.
Yogyakarta, membuatku menjadi pribadi yang berbudaya, membuatku mencintai sejarah, membuatku kagum dengan jasa-jasa pahlawan, membuatku kagum dengan nenek moyang kita. Kok bisa? Ya tentu saja bisa karena di Yogyakarta banyak Museum, Candi, Tempat bersejarah, dll yang menggambarkan secara jelas apa yang dulu hanya bisa ku baca dari buku pelajaran di sekolah dan secara tidak langsung membuatku mencintai Indonesia.
Uang?
Jangan juga pernah berfikir bahwa uang yang membawaku kembali ke Yogyakarta.
Justru, jika aku mengharapkan uang banyak aku tidak akan datang kembali ke Yogyakarta.
Bukankah hidup butuh uang? Ya betul, tapi disini aku akan menceritakan pandanganku tentang hal itu. Bagiku, hidup harus seimbang. Antara urusan dunia dan akhirat, antara raga dan jiwa, antara lahir dan bathin.
Sedikit cerita, dulu, aku pernah bermimpi ingin bekerja di perusahaan A-B-C-D dengan posisi blablabla dengan gaji sekian sekian. Berhasilkah aku mewujudkannya? Ya aku berhasil. Bahkan dalam satu bulan aku mendapatkan salary 2 digit.
Apakah itu membuatku bahagia? Ternyata tidak. Kenapa? Karena hidupku tidak seimbang. Ragaku tercukupi oleh uang tapi jiwaku? Big No. Apa yang membuat jiwaku tenang adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan nominal berapapun.
Lalu, apa hubungannya dengan Yogyakarta?
Di Yogyakarta, jiwaku terisi penuh. Kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang, ku dapatkan disini. Ketenangan bathin, ku rasakan disini. Itu yang membuat hidupku semakin bermakna.
Itulah yang aku cari, itulah yang Yogyakarta berikan kepadaku. Sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Yogyakarta amat sangat kaya
My life is not all about money.
Apakah dengan gaji disini aku bisa hidup? Jawabannya Big Yes.
Mama ku selalu khawatir tentang itu, ku rasa wajar tapi disini akan ku tekankan lagi apa yang menjadi point penting dalam hidupku, bahwa bukan itu yang ku kejar.
Walaupun hanya dengan nominal segini aku bisa hidup dengan bahagia.
Ingat kawan, Gajimu bisa mencukupi kebutuhan hidup tapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi gaya hidupmu.
Aku sudah memutuskan untuk hidup sederhana, tapi balance dalam segala sisi sehingga aku bisa menjadi manusia yang bahagia seutuhnya :)
Apakah Yogyakarta seindah itu? Iya.
Apakah Yogyakarta sesempurna itu? Tunggu dulu.. Tentu saja tidak 100% sempurna tapi dengan segala kekurangan dan problematika nya, aku tetap saja ingin tumbuh bersama Yogyakarta, aku tidak ingin meninggalkan Yogyakarta (lagi).
Aku tidak pandai dalam menceritakan isi hati, sangat jarang aku bisa terbuka, dan untuk menulis ini pun aku membutuhkan waktu lama untuk mempertimbangkan hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk menceritakan kepada kalian, biarlah ini menjadi catatan yang indah antara aku dan Yogyakarta dengan kalian sebagai saksinya, bila nanti aku sudah tiada ini akan tetap ada.
Terima kasih sudah menyempatkan membaca sepenggal perjalanan hidupku.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta ♡
Akhir kata, dengan segala kerendahan hati, izinkan aku menua bersama Yogyakarta 🎕
![]() |
| 18/8/18 |



2 comments
Jogja istimewa, jogja punya cerita..
ReplyDeleteBenar syekali kawan 😍
Delete